[Kalap Jajan] I Scream for Ice Cream – Ice Cream Parlor

Hari minggu kemarin ceritanya mau ke Dago CFD, tp biasa deh, rombongan lenong… saking riweuhnya jadi terlambat. baru jam setengah tiga sampai dago-nya, dan CFD-nya wis bubhaaarrr… XD

Mumpung udah di kota (iyaaaa… rumah saya di bandung coret, jadi kalau ke dago, kami nyebutnya ke “kota”, bully aja, bully… :p), kami putuskan untuk main ke Kijang Mas di Hariang Banga 6, sekalian beli pernak-pernik bread-baking. Etapi… tokonya tutup (baru tau belakangan, kalo PD kijang mas ini bukanya senin-sabtu, 09.00 – 17.00).

Dalam perjalanan pulang, kami merasa menemukan “hidden gems” begitu ngeliat kedai es krim/ice cream parlor I SCREAM FOR ICE CREAM. Apalagi cuaca akhir-akhir ini panas banget, yak…. Cusss… langsung parkir. Tempatnya nyaman sekali, asik buat nongkrong/arisan sambil gosip #eh.

Rasa es krim-nya juga klasik. Ada pilihan es krim dan es puter. Trus yang es krim pun ada pilihan yang biasa dan marbelicious. Yang marbelicious ini superdelicious deeehhh… enaaaaaakkkkkk…

Here’s the picture:

1-2014_1012_14565200

1-2014_1012_14400600

Vanilla marbelicious (with two different toppings)

1-2014_1012_14402000

1-2014_1012_14403600

1-2014_1012_14404600

1-2014_1012_14455300

1-2014_1012_14460900

 

I Scream for Ice Cream – icecream parlor

Jln. Hariang Banga 17 Bandung

Price range: 30000 – 35000

 

-nat-

PS: jadi tambah pengen punya ice cream maker, euyyyy…

Nat’s Life Updates (22 – 29 Dec 2014)

  • Akhirnya Dekut Burung Kukuk sudah di tangan.
    Dekut  burung kukuk

    Dekut burung kukuk

     

  • Gara2 postingan beberapa teman yang bikin tahu gejrot, saya jadi mupeng. Dari kemarin nunggu tukang tahu gejrot nggak lewat-lewat melulu, akhirnya memutuskan bikin aja. Nitip ibu beli tahu sumedang (gak nemu tahu cirebon :p pakai tahu sumedang pun jadilah) di pasar, 2500 rupiah dapat 10 biji. Ini resepnya:

Bahan:

Tahu Sumedang 20 pcs, goreng, gunting kecil-kecil

6 bwg merah, dibejek kasar

3 bwg putih, dibejek kasar

8 cengek merah, dibejek kasar

Bahan kuah:

500 ml air

2 SDM gula merah

kecap manis secukupnya

2 SDM cuka (kemarin saya kurang asem, jadi nanti mungkin tambah lagi cukanya) ==> oiya, kalo di resep asli pakai jeruk nipis/jeruk purut/lemon)

garam secukupnya

1493251_10202649365172122_598630933_n

  • updated: namatin baca Dekut Burung Kukuk. Review di sini.

Nat’s Life Updates (7 – 13 Oktober 2013)

  • Lagi baca 5 buku sekaligus: Ring of Solomon, Anna and the French Kiss, Still Life, Memoir of Geisha (baca ulang, sih), dan The Saturday Big Tent Wedding Party, Liat aja, mana duluan yang selesai. Beda-beda genre gitu. XD
  • Dapat bukti terbit buku terjemahan saya: Zoe dan Taipan yang Terluka (Zoe & the Tormented Tycoon) – Kate Hewitt. Hahayyy…
  • Beli Mason Jar 800 ml di Ginger Red Velvet di sini. Layanannya cepat dan memuaskan. Recommended, ceeuuu… 🙂
  • Update baca 11 Oktober: selesai baca The Saturday Big Tent Wedding Party-nya Alexander McCall Smith. Pengen lanjut baca Limpopo-nya. Tapi, habisin dulu deh daftar to-read di atas. X-) (3/5)
  • Sukses bikin capcay perdana. Belum sempat difoto, karena capcay langsung ludes sekali makan. Senang liat Che, Aero, dan Papachero makannya lahap. Ha-haayyy… Resep dari sini. Kali ini hampir gak ada modifikasi, karena saya sengaja belanja sesuai resep. Cuma kelupaan kembang kol sama minyak ikannya. Hehehe, tetep enak kok tanpa minyak ikan. Papachero ngomong: “kalo udangnya diganti cumi, enak, kali, ya?” *thinking* *lieur masak cumi*
  • Update baca 13 Oktober: selesai baca Anna and the French Kiss by Stephanie Perkins. Sukaaaaa… meski agak “kepanjangan” untuk ukuran buku remaja/young adult. Saya sempat kebosenan pas di pertengahan akhir buku. But it turns out to be a good book with a good ending. Tone-nya mengingatkan saya sama My Ridiculous, Romantic Obsession-nya Becca Wilhite (3.5/5)
  • Huhu… pohon paria saya tewas. T__T
  • Betapapun saya suka sama bau kertas pada buku baru, saya lebih suka membaca isinya. Jadi, jenis buku apa pun akan saya terima (buku kertas, atau buku elektronik) sekarang ini selama saya bisa MEMBACA-nya! I’m being realistic. *sebal sama gerakan anti-ebook* *sebal karena hampir gak bisa beli buku kertas lagi*
  • Memutuskan untuk batal baca ulang Memoirs of Geisha. Sebenarnya buku itu saya gunakan sebagai bahan ajar (ecieehh, bahasanya) penerjemahan. Nanti kalau waktunya luang, saya belajar lagi… 🙂

[Finished Reading] A Monster Calls – Patrick Ness

220px-A_Monster_Calls

“The monster showed up just after midnight. As they do.”

Ada buku yang dari kalimat pertamanya saja sudah membuat saya terpikat. Kalimat pertamanya sudah membuat pikiran saya meliar. Kalimat pertamanya berhasil membuat imajinasi saya diregangkan, dipelintir, dikempiskan, dikembungkan sampai tak berbentuk. Kalimat pertamanya bisa menyeret saya ke tempat-tempat tak terduga–ke ruang bawah tanah seorang pencuri buku cilik, ke kuburan buku-buku yang telah terlupakan, ke tempat-tempat asing dalam upaya memecahkan misteri tentang sebuah kunci, ke sebuah sirkus yang kemunculan dan kepergiannya selalu tak terduga seperti layaknya tempat yang menjadi pusat keajaiban lainnya. Itu baru sebagian.

Dan buku ini, “A Monster Calls – from original idea by Siobhan Dowd” karya Patrick Ness adalah salah satunya.

Saya tidak mau cerita soal isinya, tapi bukan, ini bukan buku horor seperti yang tersiratkan oleh judul dan kovernya. Setidaknya bukan monster-monster dengan sosok fisik mengerikan serta jahat. Ini buku yang menjanjikan air mata. Buku yang menjanjikan akhir cerita yang akan “membuat dunia kita kacau balau”.

-nat-

5/5

Buku sejenis: Love, Aubrey (Suzanne LaFleur), Ways to Live Forever (Sally Nichols)

[Finished Reading] Tea Time for the Traditionally Built

IMG-20130618-WA0005

  • Buku ke-10 dari serial The No. 1 Ladies’ Detective Agency karya Alexander McCall Smith.
  • Baca karya-karyanya Alexander McCall Smith seperti mendengarkan kakek/nenek kita ngobrol ngalor ngidul, ngomel, cerita masa lalunya, dan ujung-ujungnya menyampaikan petuah-petuah kehidupan. Strangely, I like the way it makes me feel.
  • Kali ini Mma Ramotswe mesti menangani kasus soal klub sepakbola, soal wanita bersuami dua, mengatasi perasaannya karena harus kehilangan van putih kesayangannya, juga membantu menyelesaikan masalah sahabat/asisten detektifnya, Mma Makutsi. Meskipun bagian soal Mma Makutsi ini membosankan, saya suka bagian akhirnya. J
  • Ada satu kutipan yang sangat saya suka: “Until you hear the whole story, until you dig deeper, and listen, you know only a tiny part of the goodness of the human heart.” (p. 72) Well-said, sir!
  • 4/5

Next to read: Still Life (Chief Inspector Gamache series, #1) Louise Penny