Nanaissance’s Bread-Baking Journey: white bread dan berbagai variannya

Udah lama nih nggak melaporkan kemajuan perjalanan saya dalam membuat roti. Saya tampilkan gambar-gambarnya aja dehhh…

matcha milk bread (roti putih pakai matcha/green tea bubuk)

matcha milk bread (roti putih pakai matcha/green tea bubuk)

white bread

white bread

 

nutella swirl bread

nutella swirl bread

 

Yang white bread, resepnya sederhana banget, cuma tepung, air, ragi, butter, garam, gula. Resep dari sini. Sebenarnya lebih enak pakai susu dan telor, akhirnya di resep untuk matcha dan nutella swirl bread, saya modifikasi resepnya pakai susu dan telor. Resep dari sini.

Aaaaahhhh… i love bread-baking.

Btw, saya  jadi tergerak bikin “madre” atau biang roti alias ragi alami alias sourdough starter. Soalnya, roti sourdough katanya lebih enak daripada roti pakai ragi instan.

Tunggu postingan selanjutnya. 🙂

 

-nat-

Advertisements

Nanaissance’s Bread Baking Journey: Rustic Crusty Bread (1st Attempt)

Yah, beberapa waktu ini saya lagi tergila-gila sama berbagai jenis roti “homemade.” Udah nyoba beli di beberapa toko roti, makin sadar kok jatuhnya jd lebih mahal daripada beli roti pabrikan yang dijual di supermarket itu. Dan setelah dikomporin sama teman2 saya, akhirnya saya putuskan untuk bikin roti sendiriiiii! huraayyy…

Untuk percobaan pertama ini, saya bikin Rustic Crusty Bread. Resep dari teman saya, tapi saya nemu blog dengan bahan2 dan cara pembuatan yang sama (ini).

Dan hasilnya ini…

Rustic Crusty Bread (nanaissance's bread baking journey, first attempt)

Rustic Crusty Bread (nanaissance’s bread baking journey, first attempt)

Tekstur terlalu kenyal dan padat (nyaris bantet).

Crust-nya tidak crunchy alias anyep/melempem.

Edibility 4 (out of 10)

Rasanya terlalu “asin” (note, kurangin garam, tambahin sedikit gula)

Kesimpulan: gagal (walau tidak total), kesalahan rupanya terletak pada “kurang lama didiamkan,” “kurang diulenin,” dan salah tepung (saya pakai kunci biru, pdhl seharusnya pakai cakra kembar atau wholewheat/wholemeal flour. Huh.

-nat-

How Translations Travel

Kalau berharap akan membaca tulisan saya tentang bagaimana buku-buku terjemahan “beredar”, lupakan saja. :p

“Road to Frankfurt: How Translations Travel” adalah seminar yang diadakan oleh Yayasan Lontar dan BCLT dengan host Gramedia Pustaka Utama di Jakarta, dalam rangka mempersiapkan diri [Indonesia, maksudnya] sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair tahun 2015.

Kenapa ujug-ujug saya tertarik ikutan seminar semacam ini? Karena… awalnya saya keliru membaca judulnya! XD Bukannya “how TRANSLATIONS travel” malah “how TO TRANSLATE travel [books/articles/writings]. XD XD XD ya Allah! *toyor diri sendiri*

Anyway, ternyata enggak rugi kok ikutan. Di sana banyak dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman baru, ketemu teman-teman lama dan baru, dan berhasil “mengobrak-abrik” markasnya redaksi fiksi GPU.

Saya narsis aja, deeehhh…

1003383_10203308485369715_351716693_n

 

-nat-

 

Oiya, ada secuplik wawasan menarik yang disampaikan oleh John McGlynn dari Yayasan Lontar tentang penerjemahan fiksi. Beliau sih menerapkannya dari pasangan terjemahan Indonesia ke Inggris, ya, tapi sepertinya bisa juga diterapkan di berbagai pasangan bahasa lain,  misalnya seperti yang saya tekuni, Inggris ke Indonesia. Tapi, tenaaaangggg… cuplikannya bukan saya yang tulis, karena sepanjang Pak John Mcglynn berbicara, saya cuma bisa bengong mendengar bahasa Indonesia beliau yang cas-cis-cus walau rada ngahiung, dan tercengang mendengar pengalaman-pengalaman beliau yang katanya “cukup beruntung” bisa menerjemahkan karya penulis-penulis ternama Indonesia! Itu, mah, bukan “cukup beruntung” euy, tapi BERUNTUNG BANGET!

Anywayyyyy… kalau ingin tahu apa yang beliau bicarakan, bisa dicek tulisannya Mbak Uci di sini, mbak lulu di sini, dan mbak dina begum di sini.

 

Nat’s Life Updates (2 – 8 Des 2013)

  • Beli sencha di indokombucha. Trus karena pengen coba kombucha-nya juga, saya pesan kombucha original green tea 1 liter. semoga enak… Update: Kombuchanya udah datang. Thx Pak Arsenius. Ternyata enak, rasanya mirip banget sama tebs.
  • Sebenernya udah dari Halloween bulan oktober lalu saya kepingin bikin pai labu (tidak, saya tidak ikut merayakan halloween, tapi berhubung ada gambar labu/kue labu di mana-mana, saya jadi ngiler). Dan beberapa saat lalu, teman saya bikin pai labu, yang penampakannya menggiurkan. slurp… resepnya katanya dari dapur mbak hesti. Memang menggiurkan, yaaa! *slurp* *lap iler* etapiiiii… bikin kulit pai-nya kok kayaknya susah. Hampir aja saya nyerah. Tapi berhubung masih belum terpuaskan, saya pun googling sana-sini, nemu blog-nya koki malas, di sini. Yak, saya putuskan mengolaborasikan keduanya. Foto menyusul X-). Baking project minggu depan nih! 🙂
  • Teringat punya stok strawberry berlimpah, tapi hampir busuk. Dan berhubung udah punya resep kulit pai (pie crust) yang tanpa telor dan mudah, kenapa nggak dijadiin pai aja stroberinya?
  • Memutuskan untuk mengaktifkan blog buku saya lagi. Dulu blog Bookzfreak ini ada di Blogger/Blogspot, sekarang saya pindahin ke wordpress. Biar ngumpul semua. Hihihihi… Berkunjung, yaaaaa…

 

  • Sabtu-minggu pergi ke Garut.

Nat’s Life Updates (14 – 20 Oktober 2013)

  • Currently reading: The Ring of Solomon, Still Life, The Attachment, The Limpopo Academy of Private Detection.
  • Reading update 16 October 2013: Selesai baca The Attachment karya Rainbow Rowell. (4.5/5) Ini chicklit yang diceritakan dari sudut pandang cowok. Katanya sih termasuk Contemporary Fiction, meskipun nggak kontemporer-kontemporer amat, soalnya ber-setting pada saat demam milenium dan kehebohan Y2K bug. Saya suka semua tokohnya, karakternya masuk akal dan manusiawi. Saking asyiknya, saya sampai nggak rela buku ini berakhir. Noooooo… gimme back Lincoln and Beth! Sayamengategorikannya sebagai light reading/romance comedy dan bisa saya bayangkan filmnya. Sungguh menyegarkan. 🙂 Baca yuuuukkkk… ceritanya tentang apa? coba dicek ke sini.
  • Selamat idul adha, semuanyaaa… salam dari kami berempat 🙂
  • Coba bikin almond milk sendiri. Kalo dari youtube sih, resepnya 1 bagian almond + 4 bagian air. Udah ikutin resep, ternyata encer pisan. kayaknya harus dikurangin airnya. Oiya, saya nggak pake raw almond nut, hihihi, tapi pake almond slice yang bisa dibeli di toko2 kue. :p nanti lain kali saya beli yang raw almondnya deh. ada di sini, dan di sini.

 

-nat-