PETI BUKU MARET 2016

BANDUNG AIR SHOW 2015

Terinspirasi dari owl crate, akhirnya saya coba-coba bikin proyek sejenis tapi khusus di Indonesia. Namanya Peti Buku (ketauan males nyari nama). Sejatinya, ini adalah proyek jualan buku, tapi bukan jualan biasa, loh yaaa, karena saya melibatkan para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia, mulai dari ilustrastor, desainer, online-shop, artisan, pekerja buku, dll. Jadilah, proyek perdana ini. Sempat terjadi kendala, sih, tapi akhirnya selesai diatasi. Semoga gak ada kendala lagiiiii… Hihihi.

Dengan ini, saya nyatakan PO (atau Pre-Order) peti buku edisi perdana Maret 2016 bertema FANTASI, resmi dibuka. Hanya tersedia 20 peti saja, yaaaa…
Isinya:
– 1 eksemplar buku fantasi terbitan baru (seharga +/- 100.000,00) => bukunya masih rahasia, yaaa… yang pasti tidak akan merugikan X)
– post card/art print karya ilustrator lokal Indonesia (untuk proyek perdana ini, saya menggandeng ilustrator favorit saya, mbak Ella Elviana)
– apothecary vial necklace dari Toko Kelontong Sihir
– pouch eksklusif dari Barokah Ruziati
– leather bookmark dari Cherocraft
– bookmark dari peti-buku sendiri.
– Cute sticky notes/aromatheraphy candles.
Untuk 5 orang pembeli pertama akan dapat 1 bonus buku dari saya sendiri (judulnya bebas, asal masih terjemahan/editan saya. haha… ngiklan)
Harganya: Rp. 230.000,00 (belum termasuk ongkos kirim, ya)
Cara pembelian: Kirim e-mail dengan subjek [peti buku maret 2016], dengan format NAMA + ALAMAT + NOTELP ke macamacabuku@gmail.com
PO ditutup sampai tanggal 10 Maret 2016 atau kuota terpenuhi. Peti buku akan dikirim [perkiraan] tanggal 20 Maret 2016.
Yuuuuukkk dibeliiiiii… 🙂
NOTES:
Kalau ada ol-shop atau artisan yang mau bekerja sama dengan petibuku, tolong layangkan  e-mail ke macamacabuku@gmail.com, sebutkan jenis produk dan harga. Kalau cocok semoga kita bisa bekerja sama di peti-peti buku selanjutnya.
 
regards,
 
Nat

[Recipe] Balado Tahu

Ini resep balado andalan saya. Simple… 🙂 Kali ini saya buatnya pakai tahu. Bisa pakai terong juga lho.

 

nanamemasak

Bahan:

6 bh tahu ukuran besar, potong dadu

1/2 ons cabe merah besar

5 butir cengek domba

5 butir bawang merah

2 butir bawang putih

daun jeruk

1 sdm gula merah

garam + merica secukupnya.

 

Cara membuat:

1. Giling cabe merah, cengek domba, bawang merah, bawang putih sampai halus.

2. Goreng tahu setengah matang. Sisihkan.

3. Tumis bumbu halus, tambahkan daun jeruk, gula merah, garam+merica, sampai harum. Masukin tahu.

4. Aduk rata.

5. Siap disajikan.

 

Nyaaammm…

 

 

Nanaissance’s Bread-Baking Journey: Rustic Crusty Bread (2nd Attempt)

Untuk percobaan kedua ini pakai  tepung cakrakembar. Nggak diulen sama sekali. Tp dibiarin sampe ngembang selama 12 jam.
Penampilan: bahenol nerkom.
Berhasil dpt tekstur yang diinginkan: gooey di dalam, crunchy di luar.
Rasa: terlalu asin untuk selera saya. (note: kurangin garam, banyakin gula.)

 

rustic crusty bread ala nanaissance

rustic crusty bread ala nanaissance

20140925_090715

nyobain selai blackberry & apple oma anna

Nanaissance’s Bread Baking Journey: Rustic Crusty Bread (1st Attempt)

Yah, beberapa waktu ini saya lagi tergila-gila sama berbagai jenis roti “homemade.” Udah nyoba beli di beberapa toko roti, makin sadar kok jatuhnya jd lebih mahal daripada beli roti pabrikan yang dijual di supermarket itu. Dan setelah dikomporin sama teman2 saya, akhirnya saya putuskan untuk bikin roti sendiriiiii! huraayyy…

Untuk percobaan pertama ini, saya bikin Rustic Crusty Bread. Resep dari teman saya, tapi saya nemu blog dengan bahan2 dan cara pembuatan yang sama (ini).

Dan hasilnya ini…

Rustic Crusty Bread (nanaissance's bread baking journey, first attempt)

Rustic Crusty Bread (nanaissance’s bread baking journey, first attempt)

Tekstur terlalu kenyal dan padat (nyaris bantet).

Crust-nya tidak crunchy alias anyep/melempem.

Edibility 4 (out of 10)

Rasanya terlalu “asin” (note, kurangin garam, tambahin sedikit gula)

Kesimpulan: gagal (walau tidak total), kesalahan rupanya terletak pada “kurang lama didiamkan,” “kurang diulenin,” dan salah tepung (saya pakai kunci biru, pdhl seharusnya pakai cakra kembar atau wholewheat/wholemeal flour. Huh.

-nat-

Travel Writing Workshop with Agustinus Wibowo

Hari sabtu ini (1 Maret 2014), saya ikutan workshop travel writing bersama Agustinus Wibowo (penulis Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol) di Mizan, Cinambo, Bandung. Niat utamanya (dan terselubung) sih berburu tandatangan beliau. Dannnn… dapet!

2014-03-01 18.21.26

Tentu aja “dapet” berhubung saya NODONG langsung di depan mukanya. X-P

Saya bukan orang yang bisa bercerita mendetail dan panjang lebar (lhaaa… buat apa ikutan workshop kalau enggak mau belajar, ya?) Tapi intinya, ada dua perkataan Mas Agustinus yang mengena banget ke saya… “To be a good writer, one must be a good reader” dan “Untuk mendapatkan tulisan yang bagus, jangan ragu-ragu untuk membuat tulisan yang jelek. Tapi terus revisi-revisi-revisi.”

Tujuan kedua saya ikut ini sebenarnya bukan untuk belajar menulis, tapi lebih mencari faktor pendorong yang lebih kuat untuk memotivasi saya agar lebih banyak menulis. Enggak cuma ngambil foto dan menambahkan caption seadanya pada foto, tapi benar-benar menulis. Lengkap mulai dari bagian Pendahuluan, bagian Tengah, dan bagian Akhir.

Semoga dengan ikut workshop itu ada manfaatnya buat saya. Dan blog ini lebih berisi dengan tulisan-tulisan yang menarik.

Aamiin.

 

Tapi yang pasti, dengan ikut workshop ini, kesan saya tentang kalimat yang mengandung kata-kata “matahari bersinar cerah”, “surga dunia”, “destinasi wisata yang WAJIB dikunjungi”, “tempat PALING … sedunia”,  dan kalimat lebay lainnya, berubah selamanya. 😛

 

-nat-