Nanaissance’s Bread-Baking Journey: white bread dan berbagai variannya

Udah lama nih nggak melaporkan kemajuan perjalanan saya dalam membuat roti. Saya tampilkan gambar-gambarnya aja dehhh…

matcha milk bread (roti putih pakai matcha/green tea bubuk)

matcha milk bread (roti putih pakai matcha/green tea bubuk)

white bread

white bread

 

nutella swirl bread

nutella swirl bread

 

Yang white bread, resepnya sederhana banget, cuma tepung, air, ragi, butter, garam, gula. Resep dari sini. Sebenarnya lebih enak pakai susu dan telor, akhirnya di resep untuk matcha dan nutella swirl bread, saya modifikasi resepnya pakai susu dan telor. Resep dari sini.

Aaaaahhhh… i love bread-baking.

Btw, saya  jadi tergerak bikin “madre” atau biang roti alias ragi alami alias sourdough starter. Soalnya, roti sourdough katanya lebih enak daripada roti pakai ragi instan.

Tunggu postingan selanjutnya. 🙂

 

-nat-

[Recipe] Puding Roti Cokelat

Halo, akhir pekan tibaaa… saatnya berkreasi. 🙂

Berhubung lagi agak bokek, saya pakai bahan yang ada aja di rumah. 🙂 Ini dia… Puding roti-cokelat. Resepnya dari ibu saya, tapi saya modifikasi seperti biasa… X-)

 

Chocolate Bread Puding

Chocolate Bread Puding

Bahan-Bahan:

10 lembar roti tawar kupas kulit (saya pakai merek s*ri roti, dan cuma 8 lembar)

3 btr telur ayam

2 kotak susu ult*a cair ukuran 250 mL (jadi 500 mL, ya)

2 SDM margarin (lelehkan)

gula secangkir kecil (entah segimana, pokoknya sesuai selera aja)

1 bungkus vanili (sekitar 1 SDT meureun yak)

3 SDM cokelat bubuk (berhubung sebelumnya pakai merek van h*uten dan gak terlalu enak, saya coba beli yang merek bergdorf, lbh enak ternyata) dicampur sama air hangat.

1 SDM maizena, campur sama air.

meises dan kacang almond untuk taburan (boleh diganti kismis, dll… 🙂 suka-suka aja deh, gak pake jg gak apa-apa.)

 

Cara buatnya mudah banget:

1. Panaskan oven 180 derajat C.

2. Siapkan loyang (saya pakai yang bundar n bolong tengahnya itu lho), oles margarin.

3. Sobek roti, tata ke dalam loyang. Tambahkan bahan taburan (meises + kacang almond)

4. Tuang susu cair, sampai roti terendam. Tekan-tekan.

5. Di tempat terpisah, kocok telur + gula, masukin cokelat yang sudah dicairkan, vanili, margarin yang sudah dilelehkan, tambah maizena.

6. Tuang adonan ke loyang berisi roti.

7. Panggang kurang lebih 30 menit. Kalau menurut resep ibu saya, sih, dikukus. Tapi kata beliau, dikukus karena gak ada oven. hihihihi…

Selesai deh.

Chocolate Bread Puding

Chocolate Bread Puding

Puding roti cokelat siap disantap. Enak disajikan sama es krim vanila… *slurrppppp…*

Hihi, gak pernah bisa potong kue, jadi berantakan deh. :)

Hihi, gak pernah bisa potong kue, jadi berantakan deh. 🙂

-nat-

[Food Photography] Ase Cabe khas Jawa Barat

IMG_0936

 

Ini ase cabe khas jawa barat buatan ibu saya (yang sebenarnya orang asli kalbar, XD). Beliau belajar resep ini dari bekas ART, dan akhirnya jadi masakan andalan beliau.

Silakan googling resepnya, karena saya nggak tahu, dan resep ala ibu saya selalu melibatkan “Gampang, tambah INI secukupnya, INU dikeprek sesuai selera, sejumput ITU, dll”

Kalau lihat di google, kayaknya gak ada resep baku dari Ase Cabe ini, jadi saya nggak tahu yang asli itu yang kayak bagaimana. Intinya adalah cabai besar (biasanya pakai cabai hijau atau cabai gendot–seperti di gambar) ditambah kaldu/kuah sapi, CMIIW.

Yuk main ke rumah [ibu] saya. Nanti disuguhi ase cabe buatan beliau. 🙂

 

-nat-

[Recipe] Butterbeer Latte

Butterbeer Latte

Butterbeer Latte

 

I’m calling all Harry Potter fans out there. This is the so-called Butterbeer (without beer, of course).

Here’s the recipe:

2 Tbs butter

2 Tbs brown sugar

1 Mug milk

1 Tsp vanilla essence

A dash of cinnamon

 

Source: http://www.tumblr.com/tagged/butterbeer-latte

 

It tastes sooooo good. Served it hot on cold days…

 

-nat-

[Finished Reading] A Monster Calls – Patrick Ness

220px-A_Monster_Calls

“The monster showed up just after midnight. As they do.”

Ada buku yang dari kalimat pertamanya saja sudah membuat saya terpikat. Kalimat pertamanya sudah membuat pikiran saya meliar. Kalimat pertamanya berhasil membuat imajinasi saya diregangkan, dipelintir, dikempiskan, dikembungkan sampai tak berbentuk. Kalimat pertamanya bisa menyeret saya ke tempat-tempat tak terduga–ke ruang bawah tanah seorang pencuri buku cilik, ke kuburan buku-buku yang telah terlupakan, ke tempat-tempat asing dalam upaya memecahkan misteri tentang sebuah kunci, ke sebuah sirkus yang kemunculan dan kepergiannya selalu tak terduga seperti layaknya tempat yang menjadi pusat keajaiban lainnya. Itu baru sebagian.

Dan buku ini, “A Monster Calls – from original idea by Siobhan Dowd” karya Patrick Ness adalah salah satunya.

Saya tidak mau cerita soal isinya, tapi bukan, ini bukan buku horor seperti yang tersiratkan oleh judul dan kovernya. Setidaknya bukan monster-monster dengan sosok fisik mengerikan serta jahat. Ini buku yang menjanjikan air mata. Buku yang menjanjikan akhir cerita yang akan “membuat dunia kita kacau balau”.

-nat-

5/5

Buku sejenis: Love, Aubrey (Suzanne LaFleur), Ways to Live Forever (Sally Nichols)