“Acknowledge” yang berarti “Mensyukuri”

Hulaaa… sudah lama tidak posting di sini, dan akhirnya punya topik “agak berat” untuk dituliskan. Hehe.
Dari naskah yang saya terjemahkan saya menemukan kalimat berikut ini:

There are none so impoverished as those who do not acknowledge the abundance of their lives.

 

Terjemahan awalnya adalah ini:

Tak ada orang yang lebih miskin daripada mereka yang tidak menyadari betapa berlimpahnya hidup mereka.

 

Tapi, menurut thefreedictionary, ternyata “acknowledge” juga berarti:

 To express thanks or gratitude for alias berterima kasih; mensyukuri.

 

Saya sunting lagi menjadi seperti ini:

Tak ada orang yang lebih miskin daripada mereka yang tidak mensyukuri betapa berlimpahnya hidup mereka.

 

Memang masih perlu dipoles lagi sih biar kalimatnya jadi lebih ngalir. Tapi setidaknya, pesannya tersampaikan. 🙂

Sekian. Inspirasi ini menghampiri saya setelah saya “istirahat sejenak” dari menerjemahkan naskah yang dimaksud. Seperti kata Lauren Kate, “Translation requires time and positive vibrations.” (jadi ada alasan buat procrastinating) :p

 

-nat-

 

How Translations Travel

Kalau berharap akan membaca tulisan saya tentang bagaimana buku-buku terjemahan “beredar”, lupakan saja. :p

“Road to Frankfurt: How Translations Travel” adalah seminar yang diadakan oleh Yayasan Lontar dan BCLT dengan host Gramedia Pustaka Utama di Jakarta, dalam rangka mempersiapkan diri [Indonesia, maksudnya] sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair tahun 2015.

Kenapa ujug-ujug saya tertarik ikutan seminar semacam ini? Karena… awalnya saya keliru membaca judulnya! XD Bukannya “how TRANSLATIONS travel” malah “how TO TRANSLATE travel [books/articles/writings]. XD XD XD ya Allah! *toyor diri sendiri*

Anyway, ternyata enggak rugi kok ikutan. Di sana banyak dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman baru, ketemu teman-teman lama dan baru, dan berhasil “mengobrak-abrik” markasnya redaksi fiksi GPU.

Saya narsis aja, deeehhh…

1003383_10203308485369715_351716693_n

 

-nat-

 

Oiya, ada secuplik wawasan menarik yang disampaikan oleh John McGlynn dari Yayasan Lontar tentang penerjemahan fiksi. Beliau sih menerapkannya dari pasangan terjemahan Indonesia ke Inggris, ya, tapi sepertinya bisa juga diterapkan di berbagai pasangan bahasa lain,  misalnya seperti yang saya tekuni, Inggris ke Indonesia. Tapi, tenaaaangggg… cuplikannya bukan saya yang tulis, karena sepanjang Pak John Mcglynn berbicara, saya cuma bisa bengong mendengar bahasa Indonesia beliau yang cas-cis-cus walau rada ngahiung, dan tercengang mendengar pengalaman-pengalaman beliau yang katanya “cukup beruntung” bisa menerjemahkan karya penulis-penulis ternama Indonesia! Itu, mah, bukan “cukup beruntung” euy, tapi BERUNTUNG BANGET!

Anywayyyyy… kalau ingin tahu apa yang beliau bicarakan, bisa dicek tulisannya Mbak Uci di sini, mbak lulu di sini, dan mbak dina begum di sini.

 

Travel Writing Workshop with Agustinus Wibowo

Hari sabtu ini (1 Maret 2014), saya ikutan workshop travel writing bersama Agustinus Wibowo (penulis Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol) di Mizan, Cinambo, Bandung. Niat utamanya (dan terselubung) sih berburu tandatangan beliau. Dannnn… dapet!

2014-03-01 18.21.26

Tentu aja “dapet” berhubung saya NODONG langsung di depan mukanya. X-P

Saya bukan orang yang bisa bercerita mendetail dan panjang lebar (lhaaa… buat apa ikutan workshop kalau enggak mau belajar, ya?) Tapi intinya, ada dua perkataan Mas Agustinus yang mengena banget ke saya… “To be a good writer, one must be a good reader” dan “Untuk mendapatkan tulisan yang bagus, jangan ragu-ragu untuk membuat tulisan yang jelek. Tapi terus revisi-revisi-revisi.”

Tujuan kedua saya ikut ini sebenarnya bukan untuk belajar menulis, tapi lebih mencari faktor pendorong yang lebih kuat untuk memotivasi saya agar lebih banyak menulis. Enggak cuma ngambil foto dan menambahkan caption seadanya pada foto, tapi benar-benar menulis. Lengkap mulai dari bagian Pendahuluan, bagian Tengah, dan bagian Akhir.

Semoga dengan ikut workshop itu ada manfaatnya buat saya. Dan blog ini lebih berisi dengan tulisan-tulisan yang menarik.

Aamiin.

 

Tapi yang pasti, dengan ikut workshop ini, kesan saya tentang kalimat yang mengandung kata-kata “matahari bersinar cerah”, “surga dunia”, “destinasi wisata yang WAJIB dikunjungi”, “tempat PALING … sedunia”,  dan kalimat lebay lainnya, berubah selamanya. 😛

 

-nat-

Nat’s Life Updates (30 Sept – 6 Okt)

  • Ada satu terjemahan saya yang sudah terbit. (Millionaire in Command–Kejutan untuk sang Miliuner, Catherine Mann, GPU). Eh sebenarnya ada satu lagi, judulnya Zoe & Taipan yang Terluka (Zoe & the Tormented Tycoon) oleh Kate Hewitt dari GPU juga, tapi saya belum terima bukti terbitnya.
  • Che ikut field trip sekolahnya ke rumah pasta untuk bikin pizza atau ke toko buku. Dia senang sekali.
  • Che lagi suka baca buku. Buku “pertamanya” yang bisa dia perlakukan dengan penuh rasa hormat (biasanya dia hanya merusak buku-buku saya… T_T ) adalah Prita dan Pohon Kenari, karya Benny Ramdhani, DAR Mizan. Bukunya dibawa ke mana-mana, dan setiap mau tidur dia selalu minta dibacakan. Saya senaaannggg… Udah saatnya saya membelikan buku untuk Che sendiri. Pengen ngebeliin buku Kumpulan Dongeng Binatang 1 oleh Anne-Marie Dalmais. Soalnya itu salah satu buku masa kecil saya, yang saya ingat betul sampai sekarang. Dan saya ingin anak-anak saya juga “mengalami” keseruan yang sama dengan membacanya.
  • Di salah satu group masak di FB, ada yang bikin bola-bola cokelat “brigadeiro” yang tampak menggiurkan. Katanya itu adalah gula-gula khas brazil yang like a bonbon and extremely scrumptious and delicious! Resepnya ada di sini. Kapan-kapan mau coba buat aaahhhh…
  • Dapat apresiasi “bagus banget” itu bikin melambung, ya bhow. Dan kadang-kadang bisa bikin lupa daratan.
  • Akhirnya saya putuskan, walau dengan berat hati, toko jualan kerudung saya, chero shop, saya tutup [sementara.] Meskipun menguntungkan, ternyata saya nggak bakat dagang, pemalas, dan nggak siap dengan intrik-intrik yang hadir di seputar jualan online. Mending saya fokus pada hal-hal yang lebih menyenangkan.  Yah, ini sementara, yaaaa… suatu hari nanti, kalau saya sudah siap, punya banyak waktu untuk fokus jualan, dan berhasil mengatasi kemalasan saya, saya buka lagi tokonya.
  • Telah mengadopsi sebatang pohon jeruk nipis tanpa biji berumur 4 bulan. Huhuy… Saya memanggilnya Jerry. 🙂
2013-10-05 13.33.32

Meet Jerry the seedless lime 🙂

  • Hari minggu tadi, kami sekeluarga “main” ke punclut, ngunjungi pasar dadakan di sana. Pengen nulis soal itu, euy. Nantilah, kapan-kapan. Sebenernya pasar dadakan di punclut ini sama aja sama pasar2 dadakan lain di bandung. hanya saja, jalanannya nanjak dan mudun, kalau bahasa prancisnya, sih. seruuu… kami datang (dan perginya) kesiangan, jadi mataharinya menyorot panas banget, walaupun udara masih sejuk.

Nat’s Life Updates (23 – 29 September 2013)

  • Naskah kerjaan yang saya hadapi menentukan jenis minuman yang saya minum. Misalnya, kalau naskah memusingkan dan bikin “jangar” saya BUTUH kopi hitam kental. Kalau naskahnya memusingkan saja, kopi sachet-an pun tidak masalah. Yang menyenangkan adalah kalau naskahnya santai, saya bisa minum apa saja. Gimana mau hidup sehat, coba? Hihihi… bagaimana dengan kalian?
  • Got tons of e-books from my friend. Including Screaming Staircase by Jonathan Stroud. Bless you, Koh! Tapiiii… daftar to-read books saya numpuk. Kapan sempat bacanya? T__T
  • Ada saat-saat di mana seseorang butuh “tepukan punggung” yang menyemangati dan  menguatkan. Dan seminggu belakangan ini adalah salah satu dari saat-saat seperti itu bagi saya. *puk puk nana* “Sabar ya. bu,” kata saya pada diri sendiri. Itu mantra buat diri sendiri kalo merasa mau “koar-koar”, “ngamuk-ngamuk”, “nyela-nyela” atau “ngeluh-ngeluh” di dunia maya.
  • Ada yang nawarin jenis pekerjaan yang bisa dibilang baru untuk saya. Setelah menimbang kemampuan dan kondisi, akhirnya saya tolak. Mencoba hal baru memang asyik dan menantang, tapi kalau tanpa persiapan, tanpa pengetahuan, tanpa pengalaman dan maen terjun begitu aja, nekat namanya. Apalagi kalau kredit-beli-tas dipertaruhkan. *lambai-lambai bendera putih*
  • Beberapa hari yang lalu kami sekeluarga sempat ke Gramedia BSM, dan saya *saya sendiri kaget* membeli buku masakan. Ini judulnya: 101 Variasi Lauk Pauk oleh Chef Hendry Ramaly Hutama, Kriya Pustaka. Belum dicoba sih resepnya, tapi kayaknya “lumayan” mudah. #emakemakbanget