Pelangi

pelangi

 

 

Azan Magrib sebentar lagi berkumandang, ketika Che tiba-tiba berteriak sementara saya sedang menekuri artikel-artikel menarik di Internet. “Mama, ada pelangi.”

Sambil buru-buru mengambil kamera, saya bergegas mengikuti anak sulung saya ke belakang rumah. Benar saja, di sana pelanginya. Hujan baru berhenti, setelah sesiangan tadi matahari bersinar terik dan membuat saya agak kelengar. Aroma tanah basah bercampur roti yang sedang saya panggang meruap di ruangan. Warna langit seperti daging ikan salmon, oranye dengan galur-galur putih kekuningan samar. Matahari sedang terbenam. Saya bidikkan kamera ke angkasa, beberapa kali saya jepretkan, gambar pelangi pun terekam. Pelangi pertama saya setelah sekian lama.

“Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan…” Lamat-lamat terdengar suara Che menyanyi di latar belakang…

 

-nat-

Deadline…

Ada secangkir kopi yang baru setengah terminum di meja, sudah lama mendingin, agak basi. Kertas-kertas, alat tulis, gumpalan tisu, dan entah apa lagi berserakan di sekitarnya. Jemarinya terus mengetik dengan cepat, bergerak dengan sendirinya di atas keyboard seperti kesurupan, mengabaikan mata yang lelah dan punggung serta leher yang pegal. Rasanya dia ingin memejamkan barang mata sedetik saja, tapi dia tahu jika begitu waktu akan terlolos dari genggamannya, terlepas saat tidur menyeretnya semakin dalam. Jadi, dia terus memaksakan matanya terbuka, jemarinya mengetik, punggungnya tegak. Dia berargumen bahwa dalam keadaan seperti ini, justru otaknya bekerja lebih cepat, lebih cemerlang, lebih tajam. Saat itu fajar hampir menjelang. Terdengar kokok ayam jago dari pekarangan rumah tetangga di belakang. Sudah dua hari dia seperti ini, belum mandi, lupa makan. Yang diminumnya selama itu hanya kopi, dan sekarang kopi itu pun terlupa, menjadi basi. Dia mengetik dan terus mengetik. Suara TV menyala terdengar lamat-lamat di kejauhan, tidak disadarinya, padahal hanya ada derau statis yang keluar dari sana, layarnya berbintik-bintik hitam putih seolah digerayangi ratusan ribu semut yang mencari sumber gula. Dia menguap sebentar, kantuk masih berusaha menyeretnya, tapi dia terus mengingatkan diri sendiri. Dia bisa bertahan sebentar lagi, tinggal satu halaman sebelum semua ini berakhir. Pada saat-saat seperti ini pula, di tengah tekanan dan kantuk, biasanya dia berjanji pada diri sendiri, untuk tidak lagi menunda-nunda pekerjaan, untuk tidak menerima pekerjaan yang membosankan, bahwa dia bekerja untuk bersenang-senang, bukan untuk mengerjakan sesuatu yang membuat tertekan.  Dia terus mengetik, tinggal satu halaman lagi, sebelum tenggat menjelang.

-nat-

NOTE: lagi belajar soal literary journalism dengan sentuhan creative writing. Intinya itu cerita tentang saya yang sedang dikejar singa mati atau deadline. Saya selalu bergidik ngeri kalau menghadapi saat-saat seperti itu lagi. Apalagi kalo kedapatan kerjaannya yang kurang-mengasyikkan. Hiyyyy… Apa dari tulisan saya bisa kebayang betapa menakutkannya dikejar singa mati itu? Haha…

2015 reading challenge

Sebagai seseorang yang mengaku Penggila Buku (yang kerja di dunia buku pula!) saya mau bikin challenge ah buat diri sendiri. Selama ini, tantangan yang saya buat lebih ke kuantitas buku, bukannya kualitas. Misalnya saja, tahun 2014 kemarin saya kepingin baca 48 buku dalam setahun… dan gagal. Sekarang, saya kepingin lebih banyak baca karya penulis Indonesia, karya klasik juga. Jadi selain menjadwalkan 48 buku yang harus saya baca dalam setahun, saya juga akan mengikuti sebagian kategori 2015-reading-challenge dari popsugars.com berikut ini (dan tentu saja saya tambahkan kategori dari saya sendiri):

  1. A book with 500 pages or more
  2. A classic romance (Pride and Prejudice)
  3. A book that become a movie/tv series
  4. A book published in 2015
  5. A book with a number in the title
  6. A book with a non-human character
  7. A comedy
  8. A ghost/horror genre (The Whispering Skull)
  9. A mystery/thriller (The Alienist)
  10. A book with one word title
  11. Classic
  12. Classic
  13. A book by non-Australian/American/British/Scottish author.
  14. Two books a friend recommended
  15. A short stories compilation
  16. Award Winning books (pullitzer, newberry, kathulistiwa)
  17. Based on true story/Memoir/Autobiography/Biography Book
  18. A book you can finish a day
  19. Books set somewhere you’ve always wanted to visit => Turkey (Birds without Wings), Vienna, Venice, Mecca, Papua
  20. A book that published the day I was born
  21. A Trilogy/Saga/Series
  22. A book from my childhood
  23. A book set in the future/dystopya/utopia/science fiction
  24. A book set in high school
  25. A book with color in a title
  26. Fantasy
  27. Graphic Novel (Rampokan Jawa)
  28. A book by author you’ve never read before/debut author (The Martian, Red Rising, Dorothy Must Die)
  29. Travelling books
  30. A banned/challenged book (The Giver)
  31. Three books that are on my shelf, but i don’t plan to read it anytime soon. (“You, book-hoarder!” I scolded myself)
  32. Novels about food or for foodies. (The Hundred-Foot Journey)

so, let the good time roll… 🙂   -nat-

say hello to my new baby: Fuji Film XA1!

Beberapa waktu ini saya berpikir untuk memensiunkan si 1000d yang udah jebot, dan menggantikannya dengan mirrorless camera. Alasannya adalah, mirrorless lebih kecil dan lebih ringan daripada dslr, sehingga mudah dibawa ke mana-mana, apalagi saya juga skrg lebih kepingin menekuni fotografi jalanan (street/urban photography) dan fotografi makanan/kuliner (food photography). Dan, setelah bersemedi sekian lama, pilihan saya jatuh pada si gorgeous XA1 ini dengan bentuknya yang klasik.

Hasil fotonya? Mantapppssssss… gak kalah deh sama slr (slr yang pemula, ya. jangan bandingkan sama slr full-frame yang harganya lewat 8 digit itu). Meskipun untuk fuji seri x ini lensanya mihil-mihil gak ketulungan (Mari nabung lagiiiii).

Owkayyy… say hello to my XA1, world!

10616340_851624111514333_699082228_n

 

ini contoh gambar yang suami saya ambil. Bokehnya dapet. 🙂

 

1-2014_0824_06491300

sample image fuji film XA1

Fuji Film XA1

Lensa kit: Fujinon 16-55 mm

How Translations Travel

Kalau berharap akan membaca tulisan saya tentang bagaimana buku-buku terjemahan “beredar”, lupakan saja. :p

“Road to Frankfurt: How Translations Travel” adalah seminar yang diadakan oleh Yayasan Lontar dan BCLT dengan host Gramedia Pustaka Utama di Jakarta, dalam rangka mempersiapkan diri [Indonesia, maksudnya] sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair tahun 2015.

Kenapa ujug-ujug saya tertarik ikutan seminar semacam ini? Karena… awalnya saya keliru membaca judulnya! XD Bukannya “how TRANSLATIONS travel” malah “how TO TRANSLATE travel [books/articles/writings]. XD XD XD ya Allah! *toyor diri sendiri*

Anyway, ternyata enggak rugi kok ikutan. Di sana banyak dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman baru, ketemu teman-teman lama dan baru, dan berhasil “mengobrak-abrik” markasnya redaksi fiksi GPU.

Saya narsis aja, deeehhh…

1003383_10203308485369715_351716693_n

 

-nat-

 

Oiya, ada secuplik wawasan menarik yang disampaikan oleh John McGlynn dari Yayasan Lontar tentang penerjemahan fiksi. Beliau sih menerapkannya dari pasangan terjemahan Indonesia ke Inggris, ya, tapi sepertinya bisa juga diterapkan di berbagai pasangan bahasa lain,  misalnya seperti yang saya tekuni, Inggris ke Indonesia. Tapi, tenaaaangggg… cuplikannya bukan saya yang tulis, karena sepanjang Pak John Mcglynn berbicara, saya cuma bisa bengong mendengar bahasa Indonesia beliau yang cas-cis-cus walau rada ngahiung, dan tercengang mendengar pengalaman-pengalaman beliau yang katanya “cukup beruntung” bisa menerjemahkan karya penulis-penulis ternama Indonesia! Itu, mah, bukan “cukup beruntung” euy, tapi BERUNTUNG BANGET!

Anywayyyyy… kalau ingin tahu apa yang beliau bicarakan, bisa dicek tulisannya Mbak Uci di sini, mbak lulu di sini, dan mbak dina begum di sini.