[Cerita Mini]: Pengemis Tua dan Hujan

Sosoknya begitu mengibakan, ringkih, sama seperti pria tua lainnya yang mencari pendapatan dari belas kasihan orang lain. Malam itu hujan, dingin, orang lalu lalang di depannya tanpa memedulikan. Saya yang sedang berteduh dan menunggu jemputan, mengamatinya menadahkan tangan. Saya iba melihatnya. Tergerak hati saya untuk memberi uang sekadarnya. Tapi saya menahan diri.

Jemputan tak kunjung datang. Saya mulai berdiri tidak sabaran. Kaki-kaki saya bergerak-gerak gelisah, tangan saya sibuk menekan tombol HP menulis SMS. Hujan turun semakin deras, hawa dingin terasa menusuk tulang. Sejenak, kondisi si pengemis tua yang mengibakan itu luput dari perhatian. Kalah oleh kejengkelan saya yang menjadi-jadi karena si pacar yang terlambat.

“Halo,” si pak tua mengeluarkan HP dari balik sarung yang menutupi tubuhnya, “jemput sekarang, ya,” katanya kepada seseorang di telepon. Saya tercengang.

Tak lama kemudian, si ojek cinta   datang. Pengemis tua itu sejenak terlupakan.

Keesokan harinya, di tempat yang sama, pria tua itu duduk sambil menadahkan tangan meminta belas kasihan. Malam itu juga turun hujan. Saya berjalan lurus melewatinya tanpa memedulikan.

(nat-130314)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s