Golden Rules of Parenting

Menurut pengalaman saya, membesarkan anak mengikuti aturan emas itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Dan menuntut atau mengharapkan orang lain untuk mengerti dan berhenti berkomentar itu sesuatu yang nyaris mustahil. Apalagi tanpa membubuhi komentar tadi dengan petuah-petuah kehidupan yang tak diminta dan ujung-ujungnya menyindir. Errr…

Aturan-aturan emas itu antara lain adalah:

  1. Jangan suka membandingkan anak-anak. Sadar atau tidak sadar, saya suka membanding-bandingkan Che dan Aero dengan anak-anak lainnya. Suami dan ibu saya sudah sering menegur. Hiks. Susah menahan diri untuk tidak mengomentari tingkah laku dan kelucuan anak-anak sendiri, bukan? Jangankan dengan anak lain, Che dan Aero aja sering saya banding-bandingkan. Hiks.
  2. Membesarkan anak dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Saya? Lemah lembut? (Terdengar ledakan keras tawa di luar sana.) Saya sudah sebisa mungkin “mendidik” anak-anak saya tanpa kekerasan. Tapi kadang-kadang rasanya sangat sulit! Kadang-kadang dengan nada suara yang keras, kadang-kadang saya juga nyintrek atau ngepret pantat dan kaki anak-anak saya kalau mereka bandel. Dan saya sering menyesal setelah melakukannya. Apa itu hanya saya, atau memang ada orang lain yang tahan mendengar/melihat teriakan/keonaran anak-anak saat kepala sedang migren dan tugas-tugas menumpuk dan sebagainya dan sebagainya, dan masih bisa sabar memberitahu anak-anak itu dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang? Hei, kalau ada, temukan saya dengan orang itu!
  3. Biarkan kreativitas anak berkembang dengan berkotor-kotoran. Saya tahu! Saya mendukung sekali hal ini! Tapi, akan saya pikir-pikir lagi kalau nanti sayalah yang harus membersihkan semua kekacauan yang mereka buat.
  4. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Jadi, untuk menjaga kewarasan saya tetap utuh, saya selalu (berusaha) hidup berdasarkan aturan emas keluarga kecil kami sendiri, dan (berusaha) mengabaikan komentar serta penilaian orang lain. Yang baik-baiknya sajalah yang diambil. Kalau tidak ada untungnya, mari kita abaikan. Memang sulit, terutama bagi saya yang masih sering tergantung dengan saran orang lain kalau mau berbuat sesuatu. Tapi sekarang saya sudah mulai bisa menguasainya. Tinggal pasang wajah lempeng, anggukkan kepala beberapa kali, dan begitu orang itu selesai bicara, langsung buang muka atau angkat kaki/hengkang/mohon diri/pamit undur dari sana. Atau, yang lebih ekstrem, supaya orang yang suka mamatahan (memberi petuah) itu jengkel sendiri dan menghentikan semua usahanya sama sekali adalah dengan CENGENGESAN. Sesuatu yang saya dan suami saya sangat kuasai.

Orangtua kami sudah sering geleng-geleng kepala dan urut-urut dada melihat gaya kami “mendidik dan mengasuh” anak-anak. Tapi sekali lagi, toh, menjadi orangtua yang baik itu merupakan suatu proses. Yang akan berkembang seiring dengan perkembangan anak-anak itu sendiri.

Nah, setelah berusaha yang terbaik, kami hanya bisa berdoa.

 

“Ya Allah izinkan kami menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kami

izinkanlah kami membesarkan anak kami dengan syariat agama-Mu.

Dan jadikanlah mereka penyenang hati kami, penerang hari-hari kami, dan jadikan mereka anak-anak yang berbakti dan soleh, yang berguna tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tapi juga bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, dan bagi agamanya.”

Amien

 

-nat-

*lagi insaf*

*takjub sendiri, betapa positifnya isi blog saya belakangan ini*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s