[When Inspiration Strikes] – Being a Mom … and World Peace

IMG_0060

Kadang-kadang saya bertanya-tanya, Kok bisa ya, saya yang seperti ini (manusia yang banyak kekurangannya) diberi tanggung jawab untuk membesarkan dua orang anak. Ya, ya, saya tahu, Tuhan memiliki rencana yang lebih besar bagi umat-Nya. Dan saya juga tahu, Tuhan tidak akan memberikan apa pun di luar kesanggupan hamba-Nya.

Seharusnya saya bersyukur diberi kepercayaan sebesar itu, bukan?

Oh, don’t get me wrong! I do grateful!

Tapi pada Hari Ibu ini, saya ingin mencoba memaknainya dalam cara yang lain. Bukan untuk menilai orang lain, tapi lebih sekadar ingin berbagi cerita. Dan ini sepenuhnya isi hati saya yang terdalam, jadi semoga tidak ada yang tersinggung.

Pada hari ibu ini, banyak orang yang menyelamati saya karena saya seorang ibu. “Selamat hari Ibu, bagi Ibu-Ibu dan calon Ibu yang hebat, super, serbabisa, jagoan, ahli keuangan, guru matematika, koki andalan keluarga, etc etc,” katanya.

Alih-alih tersanjung, saya kok merasa ditampar, ya. Ekspektasi orang terhadap seorang ibu itu kok besar sekali? Seolah-olah, kalau saya tidak memenuhi standar itu, saya adalah seorang ibu (manusia?) yang gagal!

Saya tidak hebat, saya bukan manusia super. Dengan menjadi ibu, saya bukannya berubah menjadi serbabisa. Saya masih tetap sama. Sering buat kesalahan, sering marah-marah karena hal kecil, sering labil, sering ngeluh, masih panikan! Sering mementingkan diri sendiri, gak mau disalahin, dll. Saya nggak bisa masak, saya tetap nggak jago matematika, saya boros! I am still myself to the core!

Dengan menjadi ibu, bukan berarti saya langsung menjadi kuat, tangguh, tak terkalahkan. Saya lemah, saya cengeng, saya tetap penakut!

Dengan tanggung jawab dua anak, kelemahan, kecengengan, dan ketakutan saya bertambah 100 kali lipat! Saya lemah terhadap rengekan mereka, kemanjaan mereka; saya cengeng kalau mereka terluka, sedih, sakit; saya takut sesuatu yang buruk menimpa mereka (na’udzubillahi min dzalik). Saya takut sesuatu yang buruk menimpa diri saya! Siapa lagi yang bisa menjaga mereka kalau bukan saya? Saya jadi apatis, sulit percaya kepada orang lain (bahkan partner hidup saya sendiri!), saya dipenuhi kecurigaan! Setiap malam pikiran-pikiran liar yang menakutkan berseliweran di benak saya. Hiiyyyyyyyyyyy…

Saya jadi cerminan orangtua saya dulu. Ngelarang ini-itu, marah karena ini-itu, semuanya dengan alasan demi kebaikan anak-anak!

Setelah dipikir-pikir, memperlakukan anak-anak seperti itu kok rasanya saya menzalimi mereka, ya. Saya sedang bersikap tidak adil kepada mereka. Saya takut akan kematian, saya takut akan kehidupan, lalu, apa makna keberadaan saya di dunia ini?

Ya ampunnnn… betapa tidak sempurnanya diri saya ini.

Tau nggak, satu-satunya hal yang saya inginkan terjadi dari dunia ini? World peace! Perdamaian dunia, kata-kata klise yang sering dilontarkan none-none cantik di kontes Miss Universe. Stop the shooting, stop the bombing, stop the war! Kasihanilah anak-anak saya!

Selain itu, saya juga semakin ingin jadi orang yang lebih baik. Bukan demi diri saya saja, tapi juga demi anak-anak saya. Demi menciptakan dunia yang lebih baik buat mereka.

Alih-alih jadi manusia super seperti yang digembar-gemborkan orang, saya semakin menyadari kelemahan saya. Saya menyadari kelemahan ibu saya. Saya menyadari kelemahan ibu-ibu dan calon ibu lain yang ada di sekitar saya.

Dan hari ini, saya juga tiba-tiba menyadari satu hal. Dengan mengakui bahwa diri kita lemah, kita bisa mencari cara untuk menjadi lebih baik.

Tuhan memberi saya dua bocah (dan mungkin lebih lagi? Who knows?) karena Tuhan tahu saya lemah. Tuhan tahu kelemahan saya. Dan dengan adanya dua manusia tambahan yang menuh-menuhin dunia ini, saya sadar bahwa hidup saya menjadi lebih seimbang.

Keagresifan saya berkurang. Saya jadi lebih sering tersenyum, dan mengurangi (meski bukan menghilangkan) keluhan, omelan, kernyitan, tudingan, tuduhan tentang/kepada orang lain. Dulu saya seorang sopir yang ugal-ugalan, sekarang saya menyetir dengan jauh lebih hati-hati. Dulu saya nekat, hajar bleh, main tabok; sekarang sekarang saya lebih bisa menahan diri. Dulu saya SENANG memulai pertengkeran yang tidak perlu, sekarang sih masih, meski tidak segahar dulu :p. Dulu saya tidak peduli terhadap dunia, sekarang saya merasa bertanggung jawab untuk memastikan dunia jadi tempat yang aman! Karena bagi saya, salah dua orang paling penting adalah anak-anak saya.

Bisa dilihat, kan, setidaknya dengan menjadi seorang ibu, berkurang juga keburukan gara-gara ulah saya di dunia ini.

It’s good to be a mom of two terrific (sometimes terrible ;-p) boys! Dan semoga saya (dan partner hidup saya, tentu saja) bisa mendidik mereka jadi orang yang baik, sehingga mereka bisa berkontribusi terhadap perdamaian dunia.

Peace, ah.

ero-na

-nat-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s