[Book Review] The Penderwicks

Setelah liburan di Arundel berakhir, keluarga Penderwick kembali ke rumah merekadi Gardam Street. Meski demikian, bukan berarti petualangan mereka pun berakhir!

Petualangan justru baru dimulai, walau tidak sesuai dengan harapan mereka. Petualangan kali ini melibatkan upaya keempat gadis Penderwick untuk “menyelamatkan ayah” mereka dari kencan buta, dan tentu saja untuk mencegah ayah mereka menemukan ibu baru bagi mereka.

Rencana itu melibatkan: mencari orang yang dirasa paling tidak cocok dan paling mengerikan menurut ayahnya.

Sejauh ini, mereka berhasil. Sampai sang ayah menemukan seorang wanita bernama Marianne Dashwood yang misterius! Wanita yang dirasa mereka terlalu sempurna, sampai-sampai tidak nyata. Dan anehnya, sang ayah tidak mau memperkenalkan wanita ini kepada keempat putrinya!

Masalah gadis-gadis Penderwick tidak sampai di situ. Rosalind harus menghadapi seseorang yang terus-menerus membuatnya jengkel, Skye dan Jane yang saling bertukar tugas di sekolah dan mengacaukan segalanya, serta Batty yang dikejar-kejar si jahatBugMan.

Di buku ini kita diajak mengenal lebih jauh orang-orang di sekitar keluarga Penderwick, mulai dari tetangga-tetangga merekadi Gardam Street, bibi mereka (adik Mr. Penderwick), sahabat Rosalind, dan lainnya. Secara keseluruhan, saya lebih suka sama buku nomer dua ini, terlepas dari alurnya yang agak melelahkan menurut saya. Setengah bagian pertama, alurnya sangaatt… lambat, dan setengah bagian terakhir sangat cepat. Tahu-tahu, *cring* Mr. Penderwick menemukan calon ibu yang tepat bagi keempat putrinya, *tuing* Rosalind mulai jatuh cinta (lagi) pada seorang cowok, dan *kling* masalah Skye, Jane dan Batty tiba-tiba terselesaikan. Dan… itulah yang rupanya mengurangi “kesan baik” saya tentang cara penuturan Ms. Birdsall. Sepertinya beliau terburu-buru mengakhiri ceritanya karena sudah terlanjur “kepanjangan.” Ck ck.

Membaca kisah keluarga ini membuat saya “ngakak terjengkang” sampai “nangis terharu” karena kehidupan mereka tampak sangat normal dan manusiawi, sehingga mungkin mengingatkan kita pada hidup masing-masing.

-nat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s