Review: The Historian

Judul: Sang Sejarawan (The Historian)

Pengarang: Elizabeth Kostova, 2005

Diterjemahkan oleh: Andang H. Soetopo

Penerbit: PT. GPU

Tahun terbit: 2007

768 hal

“Kalau ada setitik kebaikan dalam hidup, dalam sejarah, dalam masa laluku, kupanggil semua itu sekarang. Kupanggil dengan seluruh rasa cinta yang kumiliki sepanjang hidupku.”
(Bartholomew Rossi, dalam The Historian-Elizabeth Kostova, hal. 706)

Novel ini sudah pernah diresensi oleh banyak orang. Bagi yang sudah membacanya, mungkin akan malas membaca review “membosankan” dari saya. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat saya untuk menyajikan review yang sedikit berbeda (review yang sedikit lieur tentu saja!)

Memahami The Historian dalam Pendekatan yang Berbeda
Latar belakang pendidikan saya membuat saya memandang The Historian lebih dari sekedar novel “fiksi dewasa”.Dalam bidang ilmu yang saya pelajari—namun tidak begitu saya kuasai—terdapat satu teori yang disebut sebagai Realisme. Kebalikan dengan Idealisme, kaum realis (saya tidak hapal siapa saja) memandang serta menjelaskan politik dunia “apa adanya” (what it is), daripada melihat “bagaimana yang seharusnya” (what ought to be). Dunia dianggap sebagai tempat yang berbahaya dan tidak aman, di mana kekerasan serta kekejaman tidak dapat begitu saja dihindari. Pendek kata, pandangan realisme terhadap politik dunia pada umumnya, bersifat sangat pesimistik.

Tokoh-tokoh realis ini mendasarkan pemikirannya dari filsuf-filsuf di masa lalu, salah satunya adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes dalam bukunya yang terkenal, Leviathan (1651), mengemukakan bahwa pada dasarnya kehidupan manusia itu “nasty, brutish and short”—kejam, brutal, dan singkat, dalam suatu dunia yang anarkis, yaitu situasi perang melawan semua. Dalam situasi yang tidak dapat dihindari tersebut, maka manusia membutuhkan seorang Leviathan, yaitu penguasa mutlak yang dapat menghindari kekacauan akibat sifat manusia yang nasty, brutish, dan short tadi.


Pemahaman singkat mengenai Hobbes tadi, dapat dijadikan alat bantu untuk “meneropong” novel yang ditulis oleh Elizabeth Kostova ini.

“The Historian”—Sisi Lain Legenda Drakula

Novel pertama Elizabeth Kostova ini secara singkat menggambarkan perjalanan seorang gadis berumur 16 tahun, yang pada akhirnya menguak misteri yang telah berlangsung sejak tahun 1400-an. Buku ini bercerita tentang vampir penghisap darah manusia, yang sering kita kenal dengan Dracula.

Dracula (Vlad Tepes) sendiri, adalah tokoh nyata yang “dimitoskan”. Dia pernah hidup di tahun 1400an di Walacchia (Rumania), ketika Kekaisaran Turki berkuasa di Eropa. Tokoh ini dikenal sebagai “Vlad the Impaler” (Vlad si Penyula). Jika digambarkan dalam pandangan dunia-nya Hobbes, Dracula atau si Putera Naga, menjadikan dirinya sendiri sebagai Leviathan yang berjuang melawan penjajahan Turki atas negerinya. Ia seringkali bertindak kejam bahkan terhadap penduduk-nya sendiri, dalam rangka menghindari upaya pemberontakkan.

Bisa jadi, buku ini merupakan “sisi” lain dari kisah Dracula. Di awal-awal Kostova, tampak menertawakan ide “mahluk penghisap darah” versi Bram Stoker. Tetapi justru sejak di pertengahan bahkan sampai akhir cerita, legenda yang dihidupkan oleh Stoker, justru berbalik menjadi inti dari cerita. The Historian membawa kita ke tahun 1930-an, 1950-an, 1970-an, dan “masa sekarang” yaitu tahun 2008. Memang, alur ceritanya tidak diurutkan secara kronologis, melainkan meloncat-loncat, dan terkesan sesuka hati.

Elizabeth Kostova mengombinasikan legenda dan ilmu pengetahuan, mitos dan akal sehat, antagonisme sejarah (Islam-Barat, Liberalisme-Komunisme, dsb) serta masa lalu dan masa kini. Alur-nya yang fluktuatif, sedikit membuat bingung, apalagi jika kita kehilangan konsentrasi membacanya.

Dari sekian banyak tokoh yang terdapat di dalamnya, cerita berpusat pada perjalanan 3 orang tokoh utama, yaitu si gadis muda (yang memberikan narasi cerita), sang ayah (Paul) dan Professor Rossi. Inti dari novel ini, berkisar di kisah-kisah yang “diceritakan” oleh ketiga orang ini. Baik melalui surat, maupun pengalaman-pengalaman mereka.

Cerita dimulai ketika, si gadis menemukan surat-surat serta buku aneh yang ketika dibuka bagian tengahnya akan terlihat gambar naga yang dibawahnya terdapat tulisan “DRAKULYA”. Sedangkan halaman-halaman lainnya, kosong.

Sampai kemudian, baru diketahui ternyata dibalik misteri buku itu, terdapat kisah-kisah yang tidak hanya mengharukan, tetapi juga kelam. Semuanya berkaitan dengan sejarah. Berlokasi di Belanda, Eropa Tengah, Turki, Eropa Barat dan Amerika, kita diajak menyusuri realitas politik, sosial dan budaya pada masa-masa ketika legenda “Drakula” dimulai.

Pada akhirnya, si gadis muda ini, tetap tidak diketahui namanya. Tapi saya percaya, Elizabeth Kostova menempatkan dirinya sendiri di dalam cerita, sehingga pembaca meyakini, bahwa apa yang ditulisnya adalah sesuatu yang telah dia alami sebelumnya. Jadi si “gadis” adalah Elizabeth Kostova sendiri. Bener gak sih?


Potret Muram Sejarah Umat Manusia

Jika kita hilangkan aspek “fiksi”-nya, buku ini benar-benar menggambarkan realisme politik yang sesungguhnya dalam hubungan internasional. Ada fase-fase tertentu sepanjang sejarah peradaban manusia, yang terkesan brutal, kejam, dan tidak manusiawi.

Kita sekarang ini hidup dalam masa yang relatif damai, di mana nilai-nilai kebebasan individu dijadikan landasan untuk berpijak. Namun, konsekuensi dari kondisi liberal itu adalah manusia semakin individualistis. Kebebasan individu dihargai, namun bukan berarti mengurangi kadar “kekejaman” manusia. Bahkan kebebasan individu manusia (a.k.a demokrasi) itu dijadikan pembenaran untuk “menyerang” individu lainnya.

Sejarah mencatat, bahwa apa pun bentuk kekejamannya, seperti yang diceritakan oleh Kostova, manusia selalu menjadi korban bagi ambisi manusia lainnya. Bedanya, kekejaman di masa lampau, dilakukan “satu persatu” melalui pembakaran, penyulaan, penyaliban, pemenggalan, dan sebagainya; tetapi di masa sekarang ini, kekejaman dilakukan secara tidak langsung melalui perkembangan teknologi persenjataan (contohnya: nuklir), atau perusakan lingkungan hidup manusia (melalui pembakaran hutan, dsb).

Kita hidup dalam dunia yang penuh pertentangan. Semakin tinggi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin rendah rasa aman. Semakin mudah akses komunikasi, semakin rendah rasa kepedulian. Semakin kecil jarak antar manusia karena perkembangan transportasi, semakin besar resiko yang akan kita terima. Semakin berkualitas gedung-gedung yang kita bangun, maka semakin rendah kualitas manusia yang membangunnya.

Ke mana pun kita menatap, pasti terdapat kebaikan dan keburukan yang berdekatan bagai dua sisi mata uang. Ya, kita hidup dalam paradoks.


Pesimis?

Membaca The Historian, membuat saya sangat pesimis. Tetapi membaca buku ini juga mengajarkan untuk optimis. Bahwa dari setiap episode “kengerian” pasti akan ada fase-fase “ketenangan”. Elizabeth Kostova meninggalkan pesan moral yang cukup mendalam, yaitu bahwa sejarah akan selalu ada apa adanya, dan kita tidak akan pernah dapat mengubahnya. Namun, sejarah dapat dijadikan alat belajar, agar manusia bercermin, dan tidak mengulangi pengalaman buruk di masa lalu untuk yang kedua kalinya.

Betul tidak?

-nat-

review ini pernah dimuat dalam blog buku yang sudah tidak saya aktifkan lagi http://bookzfreak.blogspot.com pada 21 Maret 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s