Saya, Si Bandel, dan Buku

45206632_10217257560527876_3980813566696488960_n

“Masa kecil kaurayakan dengan membaca, kepalamu berambutkan kata-kata…”
 
Baris Surat Malam untuk Paska karya Joko Pinurbo di atas punya makna khusus untuk saya. Rasanya ada yang akrab di dalamnya. Masa kecil saya berlalu seperti layaknya kebanyakan anak-anak lainnya. Ada tawa dan ada tangis. Enggak selalu indah dan saya enggak terlalu ingat detailnya. Tapi yang pasti, selalu bertemankan buku. Buku-buku menemani saya sepanjang fase kehidupan sampai saat ini. Ada buku-buku yang terlupakan, ada pula buku-buku yang meskipun saya sudah lupa isinya, tapi membangkitkan kenangan-kenangan menghangatkan, kekesalan, bahkan ada yang membangkitkan segala perasaan sampai meluap-luap.
 
Misalnya, Trio Detektif dan Misteri Karang Hiu adalah buku Trio Detektif pertama yang saya baca. Milik seorang teman sewaktu SD di Ciamis yang rumahnya sering saya dan teman-teman lain tongkrongin sepulang sekolah. Saya ingat “hantu” yang menghuni kamar di atas garasinya. Dan suatu hari kami berdua memberanikan diri, berdiam di kamar itu, hanya untuk membuktikan apa benar ada hantu di sana. Saya enggak ingat apakah kami akhirnya melihat hantu sungguhan. Yang saya ingat adalah saya mengupil di sana, dan upil kecil saya menempel di ujung hidung. Bagi anak kelas 3-4 SD bahkan upil pun bisa jadi sumber rasa malu. Tapi si teman yang baik hati ini tidak mengejek dan menertawakannya, hanya memberi isyarat ada sesuatu di hidung saya dengan menyentuh hidungnya sendiri.
 
Buku lainnya adalah Little Women-nya Louisa May Alcott terbitan Gramedia, yang disadur (bukan diterjemahkan) dari film-nya. Saya ingat buku itu dari waktu saya SMP. Pada masa itu sebagian besar koleksi saya masih termasuk kategori buku anak. Komik Mari-Chan, trio detektif, goosebumps, Narnia. Saya belum pernah minta dibelikan buku yang agak “dewasa”, meski saya sudah sering membaca Agatha Christie dan (diam-diam membaca) Sidney Sheldon punya Ibu, atau Frederick Forsythe dan Erle Stanley Gardner punya Ayah. Tapi itu sih cerita lain lagi, ya.  Nah, soal Little Women ini, saya ingat betul, buku itu beredar di kalangan teman SMP. Yang bikin saya kesal dan agak mendendam adalah hanya saya yang enggak boleh meminjamnya. Dasar pelit, batin saya waktu itu. Gue juga bisa beli sendiri.
 
Saya mencari buku itu di Toko Efendi (satu-satunya toko buku di Banda Aceh), tapi ternyata enggak ada. Little Women-nya harus diimpor dari Medan atau Jakarta. Akhirnya saya titip ke Ayah yang waktu itu sering bepergian ke Jawa, tapi entah kenapa tidak kunjung dibelikan. Begitu pindah ke Bandung tahun 1997, buku itu saya dapatkan di Gramedia Merdeka. Rasanya seperti menang lotre.
 
Lalu ada buku Musashi. Buku yang mengingatkan saya pada Ibu. Bukan karena ceritanya sih, tapi karena Ibu saya pernah memenangkan kuis berhadiah berjilid-jilid buku Musashi sewaktu beliau masih remaja, dan harus mengambil sendiri buku itu di Palmerah. Jadi, setiap melewati Palmerah atau berkunjung ke Gedung Kompas Gramedia, saya selalu ingat Musashi dan Ibu.
 
Buku lain adalah serial Sadler Wells-nya Lorna Hills. Karena itu buku pertama yang saya baca tanpa perlu sembunyi-sembunyi tentang sepasang remaja yang berciuman. Hahahahaha. Begitu saya baca lagi buku itu baru-baru ini, komentar saya cuma, “Yaelah cuma gini doang. Kalau baca buku young-adult zaman sekarang bisa-bisa emak zaman dulu langsung kejer-kejer.”
 
Nah, kemarini lalu, saya dan suami membongkar kardus-kardus berisi buku yang saya kumpulkan sewaktu masih bekerja di Jakarta, dan serasa menemukan harta karun ketika melihat Si Bandel-nya Edith Unnerstad. Langsung deh, kenangan lama bangkit kembali. Saya jadi ingat buku-buku Edith Unnerstad yang pernah saya punya tapi telah hilang entah ke mana: O’Mungil, Tamasya Panci Ajaib, dan Tamasya Laut. Buku-buku yang membuat saya dulu ingin menamakan anak saya sebagai Desdemona dan Ophelia (padahal nama-nama itu sendiri diambil dari tokoh-tokoh karya Shakespeare). Tentang saya dan teman-teman sesekolah yang bertualang ramai-ramai naik sepeda sampai ke sumber mata air bernama Mata Ie (yang secara harfiah artinya Mata Air). Sepeda saya tergelincir ke pinggir sungai yang berbatu, kaki saya lecet, dan saya nangis menciar-ciar. Akhirnya, teman saya yang cowok membawakan sepeda saya sementara saya nebeng motor bu kepala sekolah. Atau tentang saya dan teman-teman melewati kuburan-kuburan tua hanya sebagai pembuktian bahwa kami berani. Tentang pohon jambu batu yang saya panjat kalau saya ngambek sama Ibu lalu keras-keras menyanyikan Cintaku Padamu-nya Ita Purnamasari sampai seantero tetangga kebisingan (yeaahhh… saya pernah sekampring itu). Tentang betapa sedihnya saya ketika pohon asem besar di depan rumah ditebang demi pelebaran jalan. Tentang laut dengan air jernih nan biru dan angin berembus kencang. Tentang badai yang mengempas-empas daun jendela kamar, karena rumah saya dulu letaknya tepat di seberang hamparan sawah, dengan Gunung di kejauhan yang membatasinya dari lautan. Tentang Aceh sebelum 1998, dan Aceh sebelum tsunami.
 
Saya ingin anak-anak saya memiliki kenangan-kenangan semacam itu. Koneksi antara dia dan orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungannya, dan pada akhirnya membantunya untuk tumbuh dan memberi mereka kehangatan dan kekuatan saat dirundung sedih sementara orang-orang yang peduli tidak berada di dekatnya. Saya ingin mereka merasakan asiknya bermain detektif-detektif-an di sekolah, menyelidiki “terowongan-terowongan peninggalan Belanda yang katanya memanjang sampai ke sisa-sisa benteng pertahanan di Ulee Lheue.” Mencari tahu apakah tengkorak yang disimpan di laboratorium biologi adalah tengkorak perempuan atau lelaki atau bahkan tengkorak sungguhan. Mencari tahu apa yang hendak disampaikan hantu kucing bermata merah yang menghantui pekarangan depan rumah seorang teman.
 
Saya ingin anak-anak saya merayakan masa kecil mereka dengan membaca, melewatinya dengan gembira, membiarkan imajinasi mereka meliar. Saya ingin mereka tahu bahwa buku adalah sebaik-baiknya teman sejati, seperti kata Aidh Al-Qarni dalam La Tahzan,“buku adalah teman sejati… yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu, dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu, dan dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kaumiliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafiqan, dan tidak akan membuat kebohongan.”
 
Dan dengan buku, saya harap mereka akan menciptakan sejarah mereka sendiri dan menjadi insan yang meski tidak sempurna tetapi tetap baik, tetap bahagia, dan bisa berguna serta meraih cita. Aamin.
 
Advertisements

Tawa

Saya lagi membaca sebuah buku yang para tokohnya sedang membahas tentang tawa. Si tokoh ditanya oleh temannya, kenapa dia tertawa? Mungkin karena dia manusia yang bahagia, jawab si tokoh. Sang teman menimpali, kira-kira seperti ini, kalau menurutku kita tertawa mungkin karena kita ingin mengecoh kesepian.

Sayup-sayup di luar kamar, saya mendengar tawa si bocah SD. “Ada yang lucu?” tanya saya, kepo.

“Nggak ada,” jawab si bocah.

“Trus, kenapa ketawa?” tanya saya lagi, menyelidik.

“Penghapus aku ilang, tapi pensilnya aku ketemu. Giliran penghapusnya ada, eehhh… pensilnya yang ilang. Hahahahaha…” Dia terpingkal-pingkal.

Benak “tua” saya yang sudah telanjur mumet ini tidak bisa memahami ironi di balik tawa si bocah. Dih, aneh ni anak, pikir saya. Dia bisa saja marah-marah, kesal pada dirinya sendiri, karena teledor menyimpan barang-barangnya sendiri. Atau dia bisa nangis karena takut diomelin emaknya gara-gara (lagi-lagi) menghilangkan barang milik pribadinya. Tapi dia memilih tertawa. Menertawakan dirinya. Dia belajar bahwa ada banyak cara untuk “mengatasi kekejaman hidup” dan salah satunya adalah dengan menertawakannya. Saya jadi tersadar, bahwa kita punya pilihan itu. Tawa atau tidak tertawa itulah intinya. Why so serious? ceuk Joker teh. Dan ini bagian terbaiknya: Tawa anak-anak itu menular, padahal mereka bahkan enggak mengerti pada apa yang baru saja mereka tertawakan. Mereka tidak butuh alasan buat tertawa. They just did, and we laughed along.

Saya ceritakan kejadian itu ke Pak Suami. Dan saat kami terkekeh bareng, dia berkomentar, “Iya, anaknya emang aneh, ya.”

Anthony Burgess pernah bilang, “Laugh and the world laughs with you….”

 

[Recipe] Spinach Frittata

Hulaaaa… udah lama gak nulis resep, nih… dan berhubung saya baru beli cast-iron skillet, makanya pengen nyoba resep yang bisa pakai wajan antilengket dari besi tempa ini. Nemu resep ini. Akhirnya memutuskan buat spinach frittata pakai skillet baru itu. Tapi seperti biasa saya modifikasi menurut bahan2 yang ada di dapur. Oiya, frittata itu adalah semacam omelet atau telur dadar tapi ala Italia. Cara membuatnya juga mudah kok.

BAHAN-BAHAN:

8 telur

2 ikat bayam, iris2

1 bawang bombay kecil, iris2

2 bawang putih, iris2

8 butir jamur, iris2

2 tomat ceri, iris2

1/4 cup susu/cream

keju mozarella/cheddar parut

1 SDM olive oil

garam + blackpepper, sesuai selera

1 sdt Italian mixed-herbs

Cara membuat:

1. Tumis bawang bombay + bawang putih hingga harum, masukin jamur.

2. Setelah jamur rada layu, masukin bayam yang sudah diiris. Masak sampai layu.

3. Di tempat berbeda, kocok telur+susu, masukin italian herbs, garam+blackpepper.

4. Tuang kocokan susu ke tumisan. Masak dengan api kecil sampai telur agak mateng. Sementara itu nyalain oven, preheat 190 derajat C.

5. Masukin adonan frittata yang ada di skillet ke oven, panggang selama sekitar 15-20 menit.

easy-peasy spinach frittata by Nana

easy-peasy spinach frittata by Nana

NOTE: kalau nggak punya oven, bisa dipanggang di atas kompor, tapi harus di bolak-balik kayak bikin dadar, jadi pastikan wajannya antilengket. Atau pindahin ke ramekin, dan panggang di oven.

Voilaaaa… frittata siap di santap (bisa untuk 4 orang)

BTW, saya bikin setengah resep karena skilletnya kekecilan. Haha…

-nat-

Pelangi

pelangi

 

 

Azan Magrib sebentar lagi berkumandang, ketika Che tiba-tiba berteriak sementara saya sedang menekuri artikel-artikel menarik di Internet. “Mama, ada pelangi.”

Sambil buru-buru mengambil kamera, saya bergegas mengikuti anak sulung saya ke belakang rumah. Benar saja, di sana pelanginya. Hujan baru berhenti, setelah sesiangan tadi matahari bersinar terik dan membuat saya agak kelengar. Aroma tanah basah bercampur roti yang sedang saya panggang meruap di ruangan. Warna langit seperti daging ikan salmon, oranye dengan galur-galur putih kekuningan samar. Matahari sedang terbenam. Saya bidikkan kamera ke angkasa, beberapa kali saya jepretkan, gambar pelangi pun terekam. Pelangi pertama saya setelah sekian lama.

“Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan…” Lamat-lamat terdengar suara Che menyanyi di latar belakang…

 

-nat-

Deadline…

Ada secangkir kopi yang baru setengah terminum di meja, sudah lama mendingin, agak basi. Kertas-kertas, alat tulis, gumpalan tisu, dan entah apa lagi berserakan di sekitarnya. Jemarinya terus mengetik dengan cepat, bergerak dengan sendirinya di atas keyboard seperti kesurupan, mengabaikan mata yang lelah dan punggung serta leher yang pegal. Rasanya dia ingin memejamkan barang mata sedetik saja, tapi dia tahu jika begitu waktu akan terlolos dari genggamannya, terlepas saat tidur menyeretnya semakin dalam. Jadi, dia terus memaksakan matanya terbuka, jemarinya mengetik, punggungnya tegak. Dia berargumen bahwa dalam keadaan seperti ini, justru otaknya bekerja lebih cepat, lebih cemerlang, lebih tajam. Saat itu fajar hampir menjelang. Terdengar kokok ayam jago dari pekarangan rumah tetangga di belakang. Sudah dua hari dia seperti ini, belum mandi, lupa makan. Yang diminumnya selama itu hanya kopi, dan sekarang kopi itu pun terlupa, menjadi basi. Dia mengetik dan terus mengetik. Suara TV menyala terdengar lamat-lamat di kejauhan, tidak disadarinya, padahal hanya ada derau statis yang keluar dari sana, layarnya berbintik-bintik hitam putih seolah digerayangi ratusan ribu semut yang mencari sumber gula. Dia menguap sebentar, kantuk masih berusaha menyeretnya, tapi dia terus mengingatkan diri sendiri. Dia bisa bertahan sebentar lagi, tinggal satu halaman sebelum semua ini berakhir. Pada saat-saat seperti ini pula, di tengah tekanan dan kantuk, biasanya dia berjanji pada diri sendiri, untuk tidak lagi menunda-nunda pekerjaan, untuk tidak menerima pekerjaan yang membosankan, bahwa dia bekerja untuk bersenang-senang, bukan untuk mengerjakan sesuatu yang membuat tertekan.  Dia terus mengetik, tinggal satu halaman lagi, sebelum tenggat menjelang.

-nat-

NOTE: lagi belajar soal literary journalism dengan sentuhan creative writing. Intinya itu cerita tentang saya yang sedang dikejar singa mati atau deadline. Saya selalu bergidik ngeri kalau menghadapi saat-saat seperti itu lagi. Apalagi kalo kedapatan kerjaannya yang kurang-mengasyikkan. Hiyyyy… Apa dari tulisan saya bisa kebayang betapa menakutkannya dikejar singa mati itu? Haha…